Tuesday, 18 January 2011

Everything happens for its reason

1 comments
Mungkin itu pelajaran yang bisa saya petik. Sekiranya manusia terkadang terbuai dengan dunia yang fana, sebelum sesuatu datang dan menyadarkan ia ke jalan yang benar.

Kejadian 'salah posting' merupakan momentum yang tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya. Bagaimana tidak? Pihak yang awalnya saya pikir adalah 'real' atau 'nyata' tiba-tiba berujung menjadi salah satu alter ego yang justru kemudian menyebabkan kesalahpahaman antar beberapa pihak.

Dengan ini saya Erlangga Dwi Aprianto merasa sangat menyesal dan mengutarakan permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas salah posting tersebut, terutama kepada Ibu Ani Surjatin dan keluarga yang telah menyadarkan saya tentang betapa pentingnya untuk berintropeksi diri.

Akhir kata, saya ucapkan saya masih muda. Masih sangat rapuh, dan mungkin jalan ini masih sangat panjang. Semoga saja diujung jalan sana, saya dapat menggapai semua cita-cita saya. Tentu saja dengan ridho-mu ya Allah.

Semoga Allah dapat memeluk mimpi-mimpi saya. Saya percaya..

Thursday, 15 July 2010

sajak

1 comments
jika hidupku sampai disini. maafkan aku Bunda, kutinggalkan dirimu seorang diri. maafkan aku yang belum bisa menjadi seseorang yang bisa kau banggakan. maafkan untuk jutaan dosa yang telah kucipta. kuharap semesta selalu melindungimu. jika hidupku sampai disini, mungkin aku akan sedih, enggan untuk beranjak. karena ini adalah hidupku yang kuimpikan selama ini. jika hidupku sampai disini, berteriak diatas bukit, berlari ke pantai, berenang ke samudera, menyadarkanku dunia ini terlalu indah untuk ditinggalkan.

Wednesday, 14 July 2010

kutip ini itu

0 comments
"What was it that made this human love so much more desirable to me than the love of my own kind? Was it because it was exclusive and capricious? The souls offered love and acceptance to all. Did I crave a greater challenge?...Or was it simply better somehow? Because these humans hate with so much fury, was the other end of the spectrum that they could love with more heart and zeal and fire?"

Stephenie Meyer - The Host

Monday, 12 July 2010

sekelebat di kepala

0 comments
hari itu aku berjalan. di tepi dua jalan yang berlawanan. satu jalan menuju persimpangan masa lalu, lainnya mengarah pada lorong panjang masa depan. disana ku lihat kamu, tersenyum, seraya melambaikan tangan. membius pikiranku, menembus sanubariku, membunuh waktu kelamku, menyayangiku dengan caramu.

pagi ini kuterbangun, tanpa air mata, tanpa gurat muram di pipi ku. ini aku, ini hidupku. itukah kamu? sang penerang hidupku.

suatu pagi, di sudut kampus tak bertepi

Thursday, 8 July 2010

delusional day

0 comments
menangkap gambar pagi. terbangun dari mimpi indah dengan derasnya air mata. satu menit, 2 jam, dan lebih. semuanya terasa hampa. menangkap gambar siang. duduk dikeramaian orang, melihat reka kejadian kita, dan terpukul karenanya. saya memang rapuh tanpamu menangkap gambar malam. mendekap kesendirian dalam pekatnya gelap malam. duduk termangu, terdiam, hilang tanpa arah. begitukah hidupku setelah kepergianmu?

p.s: tertunda sekian lama karena hatiku belum siap atas kehilanganmu

Tuesday, 15 June 2010

romeo speaks: It's a love story baby just say "Yes."

0 comments

And said...

"Marry me Juliet.(You'll never have to be alone.
I love you and that's all that I really know!
I talked to our families, pick out a white dress...
It's a love story baby just say "Yes."

Cause we were both young when I first saw you.

Monday, 14 June 2010

Seandainya saya menjadi:

0 comments

Seandainya saya menjadi seorang mahasiswa. Saya akan datang ke kampus tepat waktu. Duduk di bagian tengah kelas, memperhatikan dosen dengan seksama walau terkadang ucapannya tak banyak yang bisa saya mengerti. Mengerjakan amanat tugas dosen semampu saya, belajar meski harus dipaksa, tergoda dengan tayangan televise atau sekedar menikmati indahnya dunia maya. Ujian dengan mengandalkan rekaman ingatan perkuliahan dan menjaga animo perhatian saya untuk mengerjakan sesuai dengan apa yang saya bisa.

Seandainya saya menjadi seorang Ayah. Saya akan bangun ketika fajar menyingsing, bergegas untuk mengambil wudhu dan segera menunaikan ibadah shalat subbuh. Ketika pagi pun datang, mempersiapkan diri untuk bekerja. Sesekali menonton siaran berita pagi ataupun membaca headline surat kabar ditemani secangkir kopi. Sebelum meninggalkan rumah, tak lupa memeluk erat anak dan istri saya sebelum pergi bekerja untuk mencari nafkah. Bekerja dengan giat dan penuh semangat dan kembali di sore hari dengan buah tangan seadanya, ataupun lembur di malam hari untuk penghasilan tambahan.

Seandainya saya menjadi seorang gigolo, Saya akan mencari langganan kelas kakap. Berpakaian bak artis ternama, merias diri sebagus mungkin, lalu kemudian memasang tarif yang luar biasa tinggi. Karena saya tak mungkin tidur dengan sembarangan orang. Ketika pelanggan pun datang, saya akan memberikan pelayanan terbaik saya. Membuat mereka mengerang, menikmati setiap inci kenikmatan di setiap pori tubuhnya. Dan ya kalian bisa lanjutkan imajinasi kalian sendiri. Tak lupa saya akan sisihkan uang hasil jual diri saya untuk menyantuni anak-anak kurang beruntung di negara ini.

Seandainya saya menjadi pemuka agama, Saya akan menyerahkan seluruh jiwa saya untuk Tuhan. Menjalankan ajaran-ajaran yang saya yakini benar adanya. Entah itu Al Quran, Injil, Tripitaka, Weda, ya apapun itu. Menyebarkan ke seantero ruang hidup saya, tentang betapa besar karunia Tuhan terhadap hidup yang kita jalani selama ini. Pada akhirnya saya akan merindukkan surga dan berusaha untuk meraihnya.

Seandainya saya menjadi dosen, Saya akan menyiapkan diri saya, lahir dan batin. Menjadi dosen merupakan tanggung jawab besar, karena dari diri merekalah tercetaklah manusia-manusia unggul yang siap memasuki fase bekerja. Sedikit yang saya tahu tentang menjadi dosen, mungkin mereka juga bukan manusia super. Berusaha datang tepat waktu, ketika mengajar mungkin saya akan memperlakukan mereka seperti teman saya, membentuk pikiran mereka, mengajaknya berdiskusi, atau sekedar menambahkan apa yang mereka tidak ketahui dengan penuh tanggung jawab. Mengingatkan mereka, ketika mereka lalai. Dan ketika ujian tiba, mengawasi mereka. Mengoreksi dan menilai sesuai dengan performa, dan apa yang telah mereka berikan selama berlangsungnya perkuliahan. Karena saya pernah menjalani fase itu juga.

older post